PEMBELAJARAN YANG AKTIF INOVATIF KREATIF DAN EFEKTIF SERTA MENARIK
A. PENDAHULUAN
Pembelajaran (Instructional) merupakan proses
kegiatan yang dirancang seseorang / guru supaya peserta didik / siswa aktif
belajar, bagaimana membelajarkan siswa , atau bagaimana siswa menjadi aktif
belajar. Jadi penekanannya adalah bagaimana pendidik/guru menciptakan,
merekayasa situasi dengan memilih pendekatan , strategi, metode, dan teknik
atau ketrampilan yang mendorong siswa belajar secara aktif, inovatif, kreatif,
dengan hasil yang efektif dan dalam suasana yang menyenangkan.
Belajar
atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan
kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses untuk
menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan
ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa,
negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang
efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar
mengajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. Maka dari itulah
perlu untuk pendidik/guru menciptakan, merekayasa
situasi dengan memilih pendekatan , strategi, metode, dan teknik atau
ketrampilan yang mendorong siswa belajar secara aktif, inovatif, kreatif,
dengan hasil yang efektif dan dalam suasana yang menyenangkan.
B.
MODEL MODEL PEMBELAJARAN
Terjadi perubahan paradigma yang sangat mendasar
dalam pembelajaran saat ini , yang
terkait dengan pemilihan pendekatan pembclajaran , dari yang sudah lama menjadi
pilihan kegiatan pembelajaran berpusat pada guru ( teacher centered approach )
sebagai paradigma yang sudah dianggap using dan dianggap tradisional, pembelajaran
yang berpusat pada guru. siswa sebagai penerima informasi secara pasif, kurang
aktif, materi yang diajarkan kurang relevan, atau bisa disebut model
pembelajaran yang kurang inovatif , bergeser ke paradigma baru dan bergerak
kearah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered approach) yang
memberikan kesempatan siswa untuk aktif, ketrampilan belajar dan berinovasi berfokus
pada kreativitas, berfikir kritis,komunikatif dan kolaborasi ( Fuad Abdul
Hamied . 2008) .atau disebut oleh Trianto( 2007: 2) bahwa perubahan paradigma
pembelajaran tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada
guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid ( student centered). Dengan
demikian dapat disimpulkan ada model model pembelajaran yang kurang inovatif
dengan pendekatan yang berpusat pada guru, dan model model pembelajaran yang
inovatif dengan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa . Namun masih
tetap perlu diingat bahwa setiap model pembelajaran baik yang dianggap kurang
inovatif maupun yang inovatif memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing.
1. Model Pembelajaran
Kurang Inovatif. ’
Kalau dibaca kembali penjelasan
tersebut diatas maka dapat disebutkan bahwa model model pembelajaran yang
dianggap kurang inovatif adalah model model pembelajaran yang orientasi
pendekatamnya berpusat pada guru , ciri ciri yang nampak adalah peran dan aktifitas
guru dalam pembelajaran sangat dominan, pengetahuan dipindahkan dari pengajar
ke siswa dan siswa menerima informasi
secara pasif, penekanan pada pengetahuan diluar konteks aplikasinya, pengajar berperan
sebagai pemberi informasi dan penilai.yang menurut B’O Bannon kelompok TCA
yaitu pembelajaran yang menggunakan metode metode Demonstration yaitu guru
mendemonstrasikan suatu proses atau prosedur pokok proses terjadinya sesuatu
dan para siswa hanya aktif memperhatikan saja. , Direct Instruction yaitu
pengajaran langsung yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa belajar
konsep dan ketrampilan atas petunjuk guru, Lekture yaitu pembelajaran dengan
kuliah atau ceramah yang dilakukan hampir sepanjang waktu pelajaran oleh aktifitas
guru, siswa lebih banyak dituntut aktif mendengarkan , dan Lecture discussions
yaitu kombinasi pelajaran yang dilakukan guru dengan ceramah dan digabung atau
diselingi pertanyaan dari guru kepada
murid, murid dituntut aktif mendengarkan dan siap menjawab pertanyaan guru. \
2. Model Pembelajaran
Inovatif.
Disepakati saat ini bahwa model
pembelajaran inovatif tentu pembelajaran yang
kegiatannya berpusat pada siswa ( SCA atau LCA) yang kurang lebih 80-90%
waktu pembelajaran merupakan aktifitas siswa , sedangkan guru hanya sebagai fasilitator
dan moderator pembelajaran. Ciri ciri yang nampak pada pembelajaran ini adalah pemberian kesempatan kepada siswa
untuk aktif dan berkembang ketrampilan
belajar dan berinovasi, kreatif, berpikir kritis, komunikatif dan kolaboratif, anak banyak melakukan , menggunakan
semua indranya, 'mengeksplorasi lingkungannya, belajar dari pengalaman langsung
dan konkrit, siswa membangun pengetahuannya sendiri, selalu terlibat aktif,
guru dan siswa mengevaluasi hasil
belajarnya bersama sama, belajar menyelesaikan masalah konteks kehidupan nyata.. Dari berbagai
referensi maka dapat diambil beberapa model pembelajaran inovatif yang dapat
dikemukakan disini antara lain :
a.
Model Cooperative Learning.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
( KTSP) sebagai pembaharuan dan
penerapan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi menghendaki bahwa pembelajaran
tidak hanya mempelajari konsep, teori dan fakta saja, namun aplikasi dalam
kehidupan sehari-hari ,hal ini tercermin pada Permendiknas no 22 th 2006 tentang
prinsip pelaksanaan kurikulum diantaranya yaitu :
a. pelaksanaan didasarkan pada potcnsi,perkembangan, dan kondisi peserta
didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.
b. dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, l)belajar
untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa ,2) belajar untuk ia memahami dan menghayati, 3)belajar untuk
mampu melaksanakan dan berbuat efektif, 4)belajar untuk hidup bersama dan
berguna bagi orang lain, 5) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri,
melalui proses belajar yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan.
Menurut Solomon Sharan ( terjemahan Sigit Prawoto. 2009 )
penyunting buku Handbook of Cooperative
Learning menyebutkan pembelajaran inovatif untuk memacu keberhasilan siswa
dikelas yaitu dengan melakukan pembelajaran
kooperatif, berupa berbagai model pembelajaran . Langkah langkah pembelajaran
secara singkat diantaranya dibahas dibawah ini.
b. Model Student Teams – Achievement
Divisions (STAD) Slavin 1985. .
Siswa
dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota
lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara
heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.)
2.
Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk
dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota
lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh
siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5. Memberi
evaluasi.
6. Penutup
6. Penutup
.
Kelebihan:
Kelebihan:
1.
Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2.
Melatih kerjasama dengan baik
.Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2.
Membedakan siswa.
c. Metode Jigsaw
Pada
dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi
komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok
belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota
bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan
guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang
bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri
dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.Siswa-siswa ini bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam
subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya
kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke
kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan
informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik
lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk
menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru.
Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara
keseluruhan.
d. Cooperative
Integrated Reading and Compotition ( SIRC) (Steven , & Slavin, , 1995)
Langkah-langkah :
1. Membentuk kelompok yang
anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2. guru memberikan wacana/kliping
sesuai dengan topik pembelajaran `
3. Siswa bekerja sama saling
membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap
wacana/kliping dan ditulis pada lembar
kertas
4. Mempresentasikan/membacakan
hasil kelompok
5. guru membuat kesimpulan bersama
6. Penutup
e. Belajar Bersama.
(Johnson dan Johnson. 1929 ).
Langkah-langkah:
1. Menspesifikasikan tujuan pembelajaran. Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran khusus.
2. Membuat sejumlah keputusan sebelum
pelajaran dimulai: Guru harus menentukan ukuran kelompok,metode penugasan siswa
pada kelompok, peran siswa yang akan diberi tugas, materi yang diperlukan dan
cara menata ruangan.
3. Menjelaskan tugas dan interdepensi guru. Guru
menentukan penugasan dengan jelas, memberikan kriteria keberhasilan, dan
menjelaskan kecakapan sosial yang dapat dijalankan siswa.
4 Mengawasi pembelajaran siswa dan memberikan
intervensi didalam kelompok untuk memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas
atau meningkatkan ketrampilan interpersonal siswa atau kelompok.
5. Mengevaluasi pembelajaran siswa
dan membantu siswa memproses seberapa baik kelompok mereka berfungsi.
f. Group
Investigation
Langkah-langkah :
1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok
heterogen
2. Guru
menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3. Guru memanggil ketua—ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok
mendapat tugas satu Materi yang berbeda dari kelompok lain.
4. Masing-masing kelompok membahas materi yang
sudah ada secara kooperatif berisi penemuan.
5. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara,
ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6. Guru
memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan ~
7. Evaluasi
8.
Penutup
g. Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu
metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik
siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa
dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang.
Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang
lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang
ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan
kontra diberikan kepada guru. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa
tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi
seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. Pada dasarnya, agar semua
model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model
harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan
mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung
(interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan
dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan
menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan
peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran
tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat
(recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material
manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses
belajar.
h. Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu
cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa
dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada
umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang
diperankan.
Kelebihan metode Role Playing
Melibatkan seluruh siswa dapat
berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam
bekerjasama
.
1. Siswa bebas mengambil keputusan
dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan
yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi
pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman
belajar yang menyenangkan bagi anak.
g. Metode Pemecahan
Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem
solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan
melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan
maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi
pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah
pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
6. Merangsang perkembangan kemajuan
berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan
dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat
sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium
menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan
kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang
lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
h. Pembelajaran
Berdasarkan Masalah (Problem Based Instruction)
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1.Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan
masalah.
4. Guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu
mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru membantu siswa untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2.Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan
dengan metode ini
i. Cooperative Script
Skrip
kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara
lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2.
Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3.
Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan
siapa yang berperan sebagai pendengar
4.
Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide
pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi /
menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat /
menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan
materi lainnya
.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6.
Kesimpulan guru.
7.
Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap
siswa mendapat peran.
• Melatih
mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya
dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya
sebatas pada dua orang tersebut).
j. Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.
Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru
menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4.
Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan
gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru
menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari
alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai
dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7.
Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih
berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan
banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.
k. Numbered Heads Together
Numbered
Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor
kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari
siswa
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru
memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok
dapat mengerjakannya.
4. Guru
memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil
kerjasama mereka.
5.
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6.
Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat
melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa
yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak
semua anggota kelompok dipanggil oleh guru
l. Metode Investigasi Kelompok
(Group Investigation)
Metode
investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan
paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini
melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara
untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk
memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan
proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode
investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang
beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian
kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat
terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari,
mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih,
kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara
keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi
kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi
topic
Parasiswa
memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya
digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan
menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups)
yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam
jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b.
Merencanakan kerjasama
Para siswa
beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan
umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari
langkah a) di atas.
c.
Implementasi
Parasiswa
melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus
melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan
mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di
dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap
kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d.
Analisis dan sintesis
Parasiswa
menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c)
dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di
depan kelas.
e.
Penyajian hasil akhir
Semua
kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang
telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai
suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok
dikoordinir oleh guru.
f.
Evaluasi
Guru
beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap
pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa
secara individu atau kelompok, atau keduanya.
.
m.
Model Lesson Study
Lesson
Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa
Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh
Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun
langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah
guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a.
Perencanaan.
b. Praktek
mengajar.
c.
Observasi.
d.
Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2.
Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu
membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori
yang menunjang
.3.
Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di
kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4.
Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil
mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi
terlalui.
5.
Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian
bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah
berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga
didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6.
Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran
berikutnya dan seterusnya kembali ke (2)
.Adapun
kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
-
Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan
olahraga dan pada setiap tingkatan
kelas
- Dapat
dilaksanakan antar/ lintas sekolah.
n. Think Pair and Share.
Langkah-langkah :
1. Guru menyampaikan inti materi dan kompctcnsi yang
ingin dicapai
2. Siswa diminta untuk bcriikir tcntang
matcri/pcrmasalahan yang disampaikan guru.
3. Siswa diminta bcrpasangan dcngan
tcman scbclahnya (kclompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pcmikiran
masing-masing
4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok
mengemukakan hasil diskusinya ·
5. Berawal dari kegiatan tersebut
mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum
diungkapkan para siswa
6. Guru memberi kesimpulan
7. Penutup
C. PENUTUP.
Guru pada hakekatnya merupakan tenaga pendidik yang
memikul yangbertanggung jawab
kemanusiaan , khususnya berkaitan dengan pencerdasan anak bangsa dalam melepaskan diri dari
ketertinggalan. Tugas berat itu harus dilaksanakan
dengan sikap profesionalitas yang tinggi. Melalui kompetensi profesionalismenya
itu guru harus mampu rnewujudkan langkah Iangkah pembelajaran yang inovatif dan kreatif, dan efektif serfta
menyenangkan, sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi kehidupan siswa..
DAFTAR PUSTAKA
Shomo Sharan terjemahan Sigit
Prawoto, 2009 Hanbook of Cooperative Learning,
Imperium Yogyakarta
Trianto, 2007, Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi konstruktivistik,
Prestasi Pustaka jakarta.
Wina Sanjaya, 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Proses Pendidikan, Kencana Predana Media Group , Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar